Don’t Tell My Mother : Indonesia di National Geographic Channel
Don’t
Tell My Mother adalah serial dokumenter yang diputar di National
Geographic Channel. Setiap minggunya, mereka mengunjungi negara-negara
di berbagai belahan dunia. Mayoritas adalah negara-negara berkembang
yang penuh konflik dan mengungkap sisi lain dari negara tersebut yang
jarang diberitakan kepada khalayak umum. Kebetulan ketika saya menonton
program ini, negara yang dikunjungi adalah : INDONESIA. Saya penasaran
apa yang akan diungkap oleh Diego Buñuel (si presenter). Di awal acara,
Diego menaiki sepeda motor dilatarbelakangi oleh gunung berapi yang
mengepulkan asap tebal (sepertinya itu Gunung Bromo). Dia menjelaskan
sebuah negara dengan jajaran gunung berapi aktif. Negara dengan 17.000
pulau dan menjadikannya ‘The Biggest Archipelago In The world’ dengan
239 juta penduduk. 90% warga negaranya memeluk agama islam, dengan kata
lain : negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Tsunami, gempa, dan
gunung meletus menjadi hal biasa di negara ini.
Mula-mula
Diego mengunjungi Aceh. Dia menyebutkan, saat ini Aceh menjadi
satu-satunya Provinsi di Indonesia yang menerapkan hukum Syariah dalam
undang-undang. Penegakan hukum syariah semakin ketat pasca Tsunami yang
merenggut nyawa lebih dari 100.000 penduduk Aceh. Karena mereka percaya,
bahwa bencana tersebut merupakan azab karena meninggalkan hukum islam.
Diego mengikuti polisi moral Aceh yang berpatroli dan merazia
tempat-tempat mencurigakan. Dalam penjaringan pertama, mereka sukses
menangkap wanita yang mengenakan rok mini (rok mini memang dilarang
disini) dan seorang wanita lain yang berkerudung. DIa tertangkap basah
sedang ‘melakukan sesuatu’. Dalam perjalanan Razia, Diego sempat heran.
Dia menjumpai banyak pasangan laki-perempuan yang berboncengan mesra
diatas sepeda motor tanpa sedikitpun merasa terusik dengan kedatangan
Polisi Moral berseragam hijau yang penampilannya mirip-mirip Satpol PP.
Dia bertanya kepada Hasan, salah satu seorang personil yang duduk di
sebelah Diego. Rupanya mereka tidak ditangkap karena bisa jadi mereka
adalah suami istri. Tampaknya mereka menganut azas praduga tak bersalah
ya?.
Perjalanan
razia selanjutnya, para personil menggerebek warung dengan pencahayaan
minim. Ternyata sudah ada standar pencahayaan untuk warung yang buka di
malam hari, agar tidak disalahgunakan oleh orang-orang yang ingin
berbuat macam-macam. Kedatangan mereka secara tiba-tiba membuat para
pelanggan warung melarikan diri, tanpa sempat membayar ke pemilik
warung. Mungkin mangkok dan sendoknya masih dibawa juga? hehe.. Kontan
saja, si pemilik warung yang masih muda marah-marah.
“Look! my customers runaway, It’s all your fault!!”
Kira-kira
begitulah terjemahannya, Pak polisi menunjukkan surat penangkapan, yang
langsung diambil oleh si penjual dan dibuangnya ke tanah.
“Surat apa ini, ini semua omong kosong! Buang saja untuk makanan anjing!
Dia juga sempat mendorong kamera yang merekamnya..
Yah, anak muda yang berapi-api ini harus menanggung akibatnya, dia dibawa ke kantor polisi karena melawan petugas.
Setelah
Aceh, diego mengunjungi daerah lain. Kali ini Yogyakarta. Fenomena apa
yang kira-kira diangkat di pusat kebudayaan Jawa ini? Apakah Kraton?
atau Nyi Roro Kidul? Ternyata sangat jauh dari ekspektasi saya. Pada
awal scene, Diego dicukur rambutnya oleh seorang perempuan berkerudung.
Sekilas tidak ada yang aneh dari perempuan bernama Maryani ini. namun
setelah di-shoot close up, rupanya Maryani adalah seorang waria! Selain
Maryani, beberapa waria lain juga berkumpul di tempat itu. Ditambah
seorang homo. Setelah rambut Diego selesai dicukur, Maryani keluar dari
salonny dan mencopot papan nama salon. di balik papan tersebut ternyata
tersembunyi papan nama lain yang bertuliskan : ‘Pondok Pesantren Khusus
Waria’. Ternyata salon maryani berfungsi ganda sebagai pesantren, woww.
Bahkan adzan juga dikumandangkan disini. Saat sholat berjamaah, para
waria bebas memilih apakah mereka mau ikut shaf laki-laki atau
perempuan. sesuai dengan keyakinan dan kenyamanan mereka. Sedangkan imam
sholatnya dalah laki-laki tulen yang juga tokoh masyarakat di kampung
setempat.
Kepada
Diego, maryani bercerita bahwa kaum transgender disini mendapat
perlakuan diskriminatif sehingga mereka sulit menjalankan ibadah di
Masjid seperti muslim (atau muslimah?) pada umumnya. karena itu dia
mendirikan pondok pesantren khusus waria agar mereka bisa menjalankan
ibadah dengan tenang. Hehe. Diego juga sempat mengikuti pengajian
Ibu-Ibu jejadian ini. Berkali-kali Indonesia disebut sebagai negara
muslim yang moderat dan penuh toleransi. Mungkin liputan di Yogya juga
bertujuan menunjukkan sisi ‘moderat’ lain dari negeri ini?
Selain
Aceh dan Yogyakarta, tiga wilayah Indonesia lain juga diulas : jakarta,
Kalimantan, dan Jawa Timur. Di jakarta Diego mengulas kawasan Real
Estate untuk kelas atas bagi mereka yang masih hidup maupun yang sudah
mati. Di kalimantan Diego berjumpa dengan relawan pemerhati lingkungan
yang berjuang menyelamatkan orangutan yang semakin terancam. Sedangkan
di Jatim, dia mendapat kesempatan mencicipi (maaf) tahi terlezat di
dunia. Kalau ada waktu, saya akan ceritakan lagi liputan ketiga tempat
ini.